| Pure Saturday Anti Kekerasan |
|
|
|
| Monday, 11 August 2008 06:00 |
|
There are no translations available. Tidak ada cinta bila tidak ada kebebasan dan pada hakekatnya kebebasan itu tidak dapat diperintah atau dikuasai. Permusuhan dan percekcokan mungkin disebabkan oleh benih kebaikan serta kebebasan yang seharusnya tumbuh tapi terhalang oleh kesempitan dunia. Cintalah yang memungkinkan kebebasan itu berkembang karena cinta adalah kemurahan hati, yang selalu siap memaafkan. Kebencian adalah sia-sia. (Sindhunata) Tulisan itu tertuang di dalam sampul album Utopia milik grup band asal Bandung Pure Saturday, yang terdiri atas Suar (vokal, gitar), Adhie (gitar), Arie (gitar), Ade (bas, perkusi), dan Udhi (dram, perkusi). ''Kira-kira itu benang merah dari album ini, anti kekerasan,'' ujar Udhi. Untuk album kedua (album pertama lewat jalur indie) ini Pure Saturday (PS) memang lebih memfokuskan pada satu misi, ya anti kekerasan itu tadi. ''Selain lewat lirik, anti kekerasan ini juga tertuang lewat disain dan pewarnaan kaver,'' ujar Ade. Sedangkan judul Utopia merupakan suatu impian semata jika mengharapkan keadaan negara ini kembali ideal. ''Walaupun sebenarnya bisa, tapi rasanya keinginan itu muluk sekali,'' katanya. Selain itu mimpi juga merupakan perbuatan yang tak ada aturannya, bermimpi itu adalah hak semua orang. ''Jadi jangan halangi kita jika kita punya impian ingin menghapuskan kekerasan,'' tegas Udhi yang mengatakan PS lebih mementingkan sisi musik ketimbang penampilan. Jika kamu mengamati album kedua PS ini, akan tertangkap kesan masing-masing instrumen dan vokal terdengar sangat jelas, semuanya saling menonjol. Semua digarap seimbang dan porsi yang diberikan pada tiap pemain sama rata. ''Kita ingin flet semua, karena Pure Saturday band bukan solois,'' tegas Ade. Sementara itu untuk pembuatan lagu dan aransemen musik mereka selalu menggarapnya secara bersama. Mereka mengaku jika sedang mencipta sering terjadi salah paham, karena mempertahankan ego masing-masing. ''Banyak terjadi salah paham semakin asyik dan bikin lagunya makin seru,'' tutur Ade. Sebenarnya PS ini terbentuk karena iseng semata, mereka ngeband disaat tak berkegiatan dan menunggu hasil UMPTN. Ditambah lagi Suar bersedia rumahnya dijadikan tempat kumpul dan latihan. ''Gudang rumah Suar dijadikan studio latihan,'' tutur Adhie, saudara kembar Arie ini. Dari keisengan itu pula mereka mencoba membuat lagu dan ternyata satu sama lain menemukan kecocokkan. Lalu dibuatlah kesepakatan untuk ngeband secara serius dan mulai mencari kegiatan musik yang diselenggarakan di Bandung. ''Tapi waktu itu (tahun 1992) namanya masih Tambal Ban bukan Pure Saturday,'' cetus Udhie. Ihwal penggantian nama ini karena mereka melihat banyak grup lain yang menggunakan nama ini dan juga persiapan mereka mengikuti Festival Musik Unplug di tahun 1994. Nama Pure Saturday ini pun tercetus secara spontan. Nama ini diambil karena hari Sabtu merupakan hari latihan, sejak pagi hingga menjelang subuh. ''Jadi maksudnya hari Sabtu itu kita benar-benar kerja deh,'' ujar Ade. Beruntung di festival ini PS mendapat Juara Pertama kategori Umum, ''Wah, setelah itu kita semakin rajin bikin lagu,'' kata Arie. Kemenangan itu membuat PS semakin dikenal publik musik Bandung, hampir setiap acara yang diselenggarakan di kota kembang ini selalu mengundang PS. Tidak hanya kalangan panggung tapi pihak radio pun kerap mengundang mereka. Ketenaran PS ini membuat Ambari (ketika itu manajer PAS) berminat membuatkan PS album lewat jalur indie label. ''Kita kenal Ambar karena kebetulan saat itu manajer kita adiknya Yuki, vokalis PAS,'' kata Suar. Kesepakatan pun dibuat sambil mencari orang yang mau memodali biaya produksi. ''Beruntung seorang teman mau membiayai,'' ujar Udhie. Album yang berisi delapan lagu ini ternyata mendapat sambutan yang bagus, karena dinilai lagu-lagu PS masih fresh, dan tidak mengikuti trend musik saat itu. ''PS datang dengan warna yang lain, maksudnya diantara musik-musik keras yang saat itu sedang naik, kita malah menyuguhkan musik yang slow tapi gahar,'' kata Ade. Boleh dibilang album mereka laku keras. Saat masih diedarkan sendiri 700 kopi yang terjual. Sedangkan melalui distribusi Ceepee Production terjual sebanyak 2000 kopi. PS sangat mensyukuri anugerah ini meskipun banyak yang menilai musik mereka sangat berbeda. ''Berarti kita sudah diakui dan keinginan kita agar berbeda dari yang lain terwujud,'' seru Ade. Menapaki jalur indie bagi mereka merupakan satu strategi, selain agar dikenal publik lebih luas juga agar mereka tidak dipermainkan produser jika menempuh jalur major label. ''Kalau kita sudah mengeluarkan album indie, produser tidak bisa seenaknya lagi menyuruh kita ganti warna musik, karena sebelumnya kita sudah punya fans sendiri,'' papar Udhie. DISKOGRAFI : Utopia (1999) |
| Last Updated on Tuesday, 12 January 2010 05:51 |














