duniamusik.com
mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterToday3
mod_vvisit_counterYesterday395
mod_vvisit_counterThis week1592
mod_vvisit_counterLast week2815
mod_vvisit_counterThis month3085
mod_vvisit_counterLast month17802
mod_vvisit_counterAll days70311

We have: 2 guests online
Your IP: : 38.107.191.96
 , 
Today: September 09, 2010

Contact YM

Newsflash

There are no translations available.

Artis Julia Perez, yang juga dikenal dengan nama singkat Jupe, ingin jadi guru. Ia ingin mengajar pendidikan seks."Aku mau ngajar sex education, tapi yang positifnya, supaya pada tahu tidak melampaui batas dalam pergaulan. Aku ingin memberi penjelasan, seks itu seperti apa, karena belum tentu yang ada di internet itu benar," tutur Jupe, yang membuat sebuah kunjung ke salah satu SMA di Jakarta Barat, Kamis (11/2/2010).

Abadi Soesman-Cermin Sang Pengelana Musik PDF Print E-mail
Wednesday, 17 February 2010 09:53
There are no translations available.

Abadi Soesman
Cermin Sang Pengelana Musik

Mohammad Abadi Soesman atau yang lebih dikenal dengan sebutan Abadi Soesman adalah salah satu musisi legendaris Indonesia yang sampai saat ini masih setia berkarir di jalur musik. Bersama grupnya, Abadi Soesman Band, pria yang menguasai instrumen kibor, piano dan gitar ini bermain musik di beberapa pusat hiburan seperti Jamz Pub & Restaurant dan Waroeng Kemang membawakan lagu-lagu berirama rock & roll.

www.duniamusik.com

Sebelumnya, ia juga dikenal pernah mengibarkan grup Bharata Band yang selalu tampil mengusung lagu-lagu milik kelompok The Beatles.Salah satu grup besar yang juga pernah merasakan keandalan musikal Abadi Soesman adalah God Bless.Ia termasuk punya andil besar dalam melahirkan album Cermin, karya kedua God Bless dalam bentuk rekaman yang terhitung sukses dan sangat populer di Malaysia dan Singapura.

Kehidupan Abadi sendiri sejak kecil sudah diwarnai dengan jiwa seni seluruh keluarganya. Masa kecil musisi yang lahir 3 Januari 1949 ini tidak lepas dari arahan orang tuanya, terutama ayahnya yang seorang pemain musik klasik. Lewat arahan Van Roomer, seorang guru piano klasik berkebangsaan Belanda, Abadi dididik untuk memahami dasar-dasar musik. Selain itu, ia juga mendapat bimbingan dari Liem Kok Wha yang memberinya kursus piano jazz.

Bakat musik Abadi juga tak lepas dari perhatian sang ibu yang tak henti memberi dukungan kepada anaknya. Meski masa itu, bergelut di bidang musik adalah suatu kegiatan yang butuh pengorbanan besar sekaligus keberanian.

''Waktu saya SMP, kita bermusik itu sangat sengsara karena alat-alat musik sangat mahal. Selain itu, negara kita waktu itu dikuasai oleh komunis, sebelum tahun '65. Nah, bisa dibayangkan bagaimana sengsaranya bermain musik. Nggak seperti sekarang, meski nggak punya alat musik tetap bisa nyewa alat atau studio. Kalau dulu, ingin menyewa alat tapi susah. Bukan karena mahalnya, tapi alat itu susah didapat karena dianggap budaya barat, jadi dilarang untuk diimpor. Pokoknya, benar-benar nggak boleh. Jadi untuk main band harus benar-benar orang yang kaya,'' tutur Abadi mengenang masa lalunya.

Ia menambahkan bahwa pada masa itu, yang punya band harus orang berduit. Seperti, band Eka Sapta, Arulan, Ayodya dan Panca Nada. Band-band ini adalah milik perusahaan-perusahaan atau direktur. Anak Bung Karno, Guntur juga waktu itu mempunyai band sendiri, namanya Aneka Nada. Band ini adalah cikal bakal grup Bimbo. ''Alat-alat mereka wah. Perasaan saya histeris campur ngenes. Histeris melihat alatnya, dan ngenes karena nggak bisa punya,'' ungkap pengagum Didi Chia, Benny Likumahuwa dan Oele Patiselano ini dengan gemas.

Kondisi dunia musik yang sangat memprihatinkan juga tergambar dari sikap pemerintah saat itu terhadap grup luar, khususnya The Beatles. ''The Beatles dilarang keras oleh pemerintah masa itu. Tapi saya kira bukan Sukarno, tapi komunisnya. Buktinya, anak Sukarno semuanya bergelut di seni. Komunis ini yang kurang ajar. Makanya, komunis nggak boleh ada lagi. Itu trauma! Pokoknya main band itu dianggap kebudayaan barat. Akhirnya tahun '65, meletus peristiwa G 30 S/PKI. Setelah itu, barulah kita merasa bebas. Barulah kemudian muncul grup-grup band yang apresiatif seperti The Rollies, Giant Step, hingga God Bless. '' Sekitar tahun '60, Abadi mulai main band bocah bersama saudara-saudaranya yang kemudian berlanjut menjadi Irama Abadi Band. Gitaris Ian Antono yang merupakan teman sekampung Abadi kemudian bergabung di band tersebut. Pertemanan serta kesamaan minat antara Abadi dan Ian di bidang musik lalu membawa keduanya pada kesepakatan untuk mengadu nasib di Jakarta sebagai musisi. Tahun '70, Abadi dan Ian merantau ke Jakarta dengan menumpang truk tanpa restu dari orang tua masing-masing.

Setelah Irama Abadi Band bubar, Abadi lalu bergabung dengan The Pro's bersama mendiang Broery Marantika. Tahun '72, Abadi mendapat kesempatan untuk melawat ke negeri Paman Sam bersama The Pro's. Di sana, ia tidak menyia-nyiakan kesempatan untuk belajar musik dan segala hal yang bisa menambah wawasannya. Tiga tahun kemudian, Abadi kembali ke tanah air dan langsung bergabung dengan Guruh Sukarno Putra, Chrisye, Odink Nasution, Keenan Nasution dan Ronni Harahap di band Gypsy sebelum akhirnya 'terdampar' di grup God Bless

 

| Design by: www.Websiteinteraktif.com |

Share on facebook